Tidak Layak Jadi Karyawan

Oleh Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership

Ada dua calon karyawan, sama-sama jujur dan baik. Karyawan A punya pengalaman, sangat prospek untuk berkembang, pro aktif, senang bergaul, percaya diri namun meminta gaji lebih besar. Karyawan B punya pengalaman juga, prospek berkembangnya lambat, minder, tidak percaya diri, gaji yang diminta pun rendah. Mana yang Anda pilih?

Saya pernah memilih karyawan model A dan model B di kesempatan yang berbeda. Akhirnya saya menyesal telah memilih karyawan model B. Murah memang, namun energi yang kita keluarkan selanjutnya jauh lebih mahal. Bukan hanya itu, karyawan model B ternyata menguras energi dan emosi.

Apakah karyawan model B tak layak untuk direkrut? Tentu layak, bila setelah ia tahu kelemahannya kemudian ia terus berbenah dengan sungguh-sungguh. Ia bersedia mengeluarkan energi lebih besar untuk mengejar ketertinggalan. Namun sayangnya, sebagian besar karyawan model B setelah bekerja justeru menunjukkan perilaku yang melemahkannya. Apa itu?

Pertama, menjadi orang yang transaksional. Setiap pekerjaan tambahan yang diberikan, ia selalu menuntut tambahan penghasilan terlebih dahulu. Ia pun sering menghindar apabila diberi pekerjaan yang menantang apalagi bila di dalamnya tak ada imbalannya. Pikirannya selalu “gue dapat apa?”

Padahal boleh jadi, pekerjaan yang menantang itu akan memberikan tambahan kemampuan dan keterampilan luar biasa yang sulit di dapat oleh karyawan yang lain. Tetapi karena tak ada imbalan berbentuk materi yang ia terima, ia pun malas bergerak dan mengerjakannya. Mental transaksional semakin membuat ia tertinggal bersaing dengan karyawan yang lain.

Kedua, menjadi karyawan “pas bandrol.” Apa artinya? Datang tepat waktu dan pulang juga tepat waktu. Bahkan terkadang datang terlambat tetapi pulang lebih cepat. Bila datang terlambat tak merasa bersalah namun bila pulang terlambat meminta lembur. Apabila ada kegiatan selepas jam kantor, ia akan mengeluh apalagi bila tak mendapatkan kompensasi apapun.

  10 Alasan Karyawan Tetap Loyal pada Perusahaan

Ketiga, enggan investasi untuk pengembangan diri. Karyawan model B sangat pelit untuk investasi pengembangan diri. Ikut pelatihan atau training yang dikirim kantor saja enggan apalagi harus mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. Berbeda dengan karyawan model A, ia bahkan bersedia investasi untuk mengasah keahliannya walau perusahaan tidak ada budget untuk pengembangan itu.

Memang kita perlu memberdayakan karyawan model B, di saat yang sama kita pun perlu menyelamatkan bisnis yang kita rintis. Berdayakanlah orang sesuai potensinyanya dan tempatkanlah ia di tempat yang tepat. Jangan karena alasan pemberdayaan, usaha kita menjadi gulung tikar. So, pilih yang mana?

 

Informasi training, coaching dan consulting: hubungi 021-29-400-100 atau 082-111-999-022

Subscribe Video Motivasi Jamil Azzaini di Youtube Channel Kubik Training

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends