Seni Leadership: Pertanyaan dan Nasehat

 

Kubik Leadership / Innovate For Impact

Di keluarga saya punya banyak kebiasaan, salah satunya adalah memberi saran atau nasehat kepada yang berulang tahun dan setelah itu berdoa bersama untuk yang berulang tahun. Selasa lalu, anak saya yang nomor tiga (Izan) berulang tahun ke 19. Karena ia sedang kuliah di Universitas Brawijaya Malang, tidak semua bisa berkumpul. Hanya ibu dan kakak pertamanya yang nyusul ke Jawa Timur. Selebihnya memberi nasehat dan doa via video call.

Dari sekian banyak nasehat, justeru yang mengena adalah nasehat dari anak bungsu saya, Fikar (13 tahun) padahal Fikar hanya mengajukan pertanyaan “mas bagaimana resolusi hidup tahun 2017 yang sudah pernah dipresentasikan? Apakah sudah dijalankan? Sudah sampai mana?” Tiga pertanyaan ini ternyata justeru yang paling mengena bagi Izan.

Ternyata, pertanyaan itu bisa lebih mempunyai kekuatan dibandingkan nasehat dan petunjuk. Sebagai seorang pimpinan, kita mulai terus belajar mengajukan pertanyaan berkualitas kepada diri sendiri maupun orang lain. Wajar jika Einstein pernah kurang lebih berkata “andai saya punya waktu 60 menit, dan hidup saya tergantung dari 60 menit tersebut maka saya akan habiskan 55 menit untuk mencari pertanyaan yang tepat dan 5 menitnya akan saya selesaikan masalah yang saya hadapi.”

Pelajaran lain, jangan pernah sepelekan hal positif dari siapapun. Pertanyaan Fikar justeru yang mendorong Izan melakukan perubahan dalam tindakan, padahal Fikar paling bungsu di keluarga kami. Pastikan semua orang berpikir, berkata dan bertindak positif di rumah atau kantor Anda, karena kita tidak tahu mana dari pikiran, ucapan dan tindakan itu yang mempengaruhi orang lain.

Guru ngaji saya pernah bercerita, saat ia membangun pesantren. Ada tukang bangunannya yang tidak pernah sholat. Sebagai seorang ustadz hampir setiap hari ia menasehati tukang tersebut untuk ikut sholat. Tetapi sang tukang tidak pernah tergerak, bahasa gaulnya gak ngefek. Nah suatu ketika guru saya kedatangan saudaranya (adiknya) yang bekerja di Pertamina. Saat tahu tukang yang bekerja di pesantren kakaknya tidak sholat, sang adik berkata “sholat pak’e, sudah bahu tanah koq belum sholat. Kalau pak’e meninggal hari ini, mau ngomong apa sama Gusti Allah?”

  Cara Menikmati Masalah Hidup

Tahu apa yang terjadi? Tukang itu akhirnya sholat hingga akhir hayat. Padahal yang memberikan nasehat bukanlah ustadz tetapi profesional biasa yang ilmu agamanya kalah jauh dengan kakaknya yang rajin memberi nasehat. Dan ternyata, dalam nasehat tersebut terkandung juga pertanyaan.

Mari belajar mengajukan pertanyaan yang tepat, baik saat di rumah maupun di tempat bekerja. Apa pertanyaan memberdayakan yang sudah Anda siapkan?

 

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

 

Informasi training, coaching dan consulting: hubungi 021-29-400-100 atau 082-111-999-022

Subscribe Inspirasi Leadership Jamil Azzaini di Youtube Channel Kubik Leadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends