Q: Coach Fauzi, apa yang terjadi jika pemimpin terlalu otoriter, tidak mau mendengarkan masukan dari team bahkan dari yang levelnya sama? Dia hanya mendengarkan dari satu orang, dari Finance Director.

A: Seseorang mungkin tidak mau didikte. Tapi dari pengalaman saya, semua orang mau menjawab pertanyaan. Sehingga kita bisa belajar menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah untuk menciptakan kesadaran baru kepada yang bersangkutan.

Q: Ada success story dari program coaching yang pernah kubik lakukan Coach?

A: Alhamdulillah ada Mas. Kami pernah “nyemplung” di klien untuk membenahi proses bisnis dan mengcoach leadersnya, dan alhamdulillah terjadi perbaikan dalam hal-hal kritikal yang mereka ingin ubah. Saat ini kami juga sedang mengcoach 25 top leaders sebuah perusahaan dengan omzet puluhan Trilyun per tahun, bukan hal yang gampang karena lokasinya tersebar 😀

Q: Bagaimana cara menghadapi leader yang “merasa” sudah benar dan sebagai Revoleader, padahal kenyataannya tidak?

A: Saya sarankan kita berfokus pada diri kita dan tim kita. Kalau yang bersangkutan di atas kita, kita tetap bisa memberikan influence dengan belajar menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah (powerful questions) sehingga memancing kesadaran baru.

Contoh pertanyaan yang menggugah :

Saya pake ilustrasi di rumah saya dulu ya, nanti kita analogikan dengan kehidupan kantor : Di rumah anak saya seneng main game. Kalau dilarang, ya ngelawan. Namanya juga gen Z.. hehehe.. Tapi ketika ditanya, apa cita-citanya (jadi ahli IT). Supaya tercapai apa yang harus dia siapkan? (nilai harus bagus). Supaya nilai bagus apa yang harus dia lakukan? (wah.. harus alokasi waktu buat belajar).

Maka moment ahanya dia sendiri yang nemu, dan dia tanggungjawab

Saya pernah punya atasan yang selalu merasa benar. Gagasannya gak mau didebat. Dan ketika saya tanya-tanya pengalaman di tempat kerja sebelumnya, senang dia. Begitu saya tanya bagaimana dia dulu menerapkan gagasannya di tempat dia sebelumnya, tiba-tiba dapet moment aha bahwa gagasannya belum proven. Dan dia bersedia mendengar alternatif gagasan lain. Banyaaak sekali contoh pertanyaan yang menggugah (powerful questions), insyaAllah saya share nanti di workshop.

  Resume Kelas Revoleader (6)

Q: Apakah dari 4 quadran itu harus bertahap atau langsung pada satu kuadran, misalnya ketika baru menempati jabatan seorang leader apakah langsung bisa di quadran revoleader???

A: Bisa saja seseorang sudah berada di kuadran 4

Q: Apa yang dimaksud positif yang radikal?

A: Gagasan baru yang mendobrak namun juga memberi nilai tambah, tidak sekedar beda.

Q: Bagaimana cara mengimbangi pimpinan no 4, bahkan bisa melampauinya, supaya saya bisa menjadi bawahan yg terhebat dan terdepan?

A: Kerennya menerapkan coaching untuk Tim adalah .. Coaching ini cocok buat para Champion. Lihat saja para juara dunia, punya coach gak? Pasti punya. Karena dengan coaching para juara tersebut akan menjadi semakin hebat dan stay on top.

Q: Bagaimana cara seorang anggota tim (bukan/pemimpin tim/organisasi) untuk kelak menjadi seorang revoleader?

A: Harus punya program pengembangan dengan menerapkan teknik coaching. Bisa dibicarakan dengan atasannya, supaya program tadi terlaksana.

Q: Perbedaan keempat leadernya apa ya?

A: mohon di scroll tadi sudah dibahas perbedaan untuk setiap kuadran.

Q: Atasan saya kadang mau menerima pendapat bawahannya , tapi setelah atasan saya mondar mandir, ternyata dia kurang setuju dengan pendapat bawahannya. Terkadang di situ saya merasa galau.

A: Berproses, terus perbaiki teknik meyakinkan atasan, setelah dipercaya saya yakin tidak begitu lagi.

Q: Bagaimana coach bisa melampaui pimpinan yang sudah ada di kuadrant 4?

A: Berkumpullah di kuadran 4 bersama para pemimpin, bersama para stars, setelah itu tugas kita adalah melahirkan star-star berikutnya. Anda akan melampaui pemimpin Anda manakala sudah berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin hebat lebih banyak dari beliau-beliau.

Q: Bagaimana caranya agar antara coaching dan mentoring tidak campur aduk coach? Suka salah paham..

  Resume Kelas Revoleader (3)

A: Betuul, bahkan di banyak perusahaan besar pun masih campur aduk. Dua-duanya penting dan bisa dikombinasikan. Mentoring adalah sharing knowledge, experience, dari orang yang memiliki pengetahuan atau pengalaman yang lebih. Coaching mendorong kita mengeluarkan potensi terbaik kita.

Q: Coach… apakah untuk menjadi Revoleader harus selalu di coaching oleh atasan? Bagaimana kalau misalnya melakukan self coaching, kemudian hasil/gagasannya kemudian disampaikan kepda atasannya yang notabene memiliki wewenang untuk menyetujui/tidaknya gagasan tersebut.

A: Prinsipnya self coaching bisa dilakukan. Namun pengalaman akan lebih efektif jika coach adalah orang lain. Tidak harus atasan, bisa juga peer-coaching.

Q: apakah revoleader selalu terbentuk melalui coaching?

A: Tidak. Namun coaching adalah cara paling efektif untuk “menggeser” posisi seseorang dari suatu kuadran ke kuadran REVOLEADER.

Q: Bagaimana caranya supaya kita bisa on track dalam coaching bukan menthoring?

A: Kita harus susun program yang komprehensif. Saya menyebutnya “Project-based Coaching”. Jadi sesi-sesi coaching sudah direncanakan dalam sebuah rangkaian. Supaya tidak menjadi “ngobrol-ngobrol” saja. Namun jelas dan tajam objectivenya.

 

Bersambung ke halaman selanjutnya

 

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends