Banyak faktor tentunya yang menyebabkan hal ini terjadi. Namun salah satu faktor yang hari ini dianggap menyebabkan gap tersebut menjadi semakin berpeluang terjadi adalah: terjadinya perubahan dramatis dalam lingkungan bisnis.

Contoh: Kompetisi tidak lagi datang dari kompetitor langsung yang menawarkan produk dan layanan yang sama, namun ternyata bisa datang dari entity yang sama sekali berbeda, namun mampu menawarkan solusi dengan cara-cara baru. Lembaga training misalnya. Tidak bisa lagi hanya melihat lembaga training lain sebagai kompetitor. Bisa jadi kompetitor malah datang dari sharing knowledge melalui online yang semakin bagus kualitasnya. Perusahaan taksi saja ternyata kompetisinya justru datang dari perusahaan aplikasi online.

Di Kubik kami juga merasakan. Bulan ini sudah beberapa kali kami coaching tidak lagi face to face tapi via video conference. Bahkan training pake video conference. Lha kalau gak siap, bisa-bisa tiba-tiba ada perusahaan asing kasih coaching jarak jauh, dan lebih terkenal, bisa dilibas kita.

Nah kondisi ini di lingkungan luar di “perparah” dengan fenomena VUCA – Volatility – Uncertainty – Complexity – Ambiguity. Serba kompleks, berubah serba cepat, serba tak pasti, serba meragukan. Client kami yang produknya komoditas bingung, harga nge drop terus. Pas di awal masih berani bilang: badai pasti berlalu.. sekarang bilangnya lain lagi.. Kayanya badai nya gak akan berlalu 😀

Banyak pihak yang kemudian berkesimpulan: abnormal is the new normal. Yaa situasi yang gak normal ini sudah jadi kewajaran yg baru. Naaaah.. apa akibat situasi ini?

Yuk kita lihat. Ini berdasarkan pengamatan dari bisnis-bisnis riil di Indonesia:

  1. Stagnasi pertumbuhan usaha, karena tidak adanya terobosan. Pemimpin yang sudah terlalu lama menjabat mengalami kesulitan menemukan cara-cara baru dalam menghadapi tantangan baru. Mereka cenderung menggunakan cara lama untuk mengatasi tantangan baru. Sementara pemimpin baru tidak siap.
  Resume Kelas Revoleader (3)

Ini beneran terjadi, saya sedang coach, bagaimana menemukan cara baru. Karena best practice yang dulu dianggap “kitab suci” sudah gak laku.

  1. Kehilangan momentum. Perubahan dramatis selain menghadirkan tantangan juga menghadirkan momentum.

Contoh momentum kehadiran mobile internet yang terlambat direspon oleh para pelaku industri transportasi, namun justru berhasil dimanfaatkan oleh penyedia aplikasi online yang memberi kemudahan pelanggan mendapatkan sarana transportasi yg dibutuhkannya. Saat pelaku jasa transportasi tradisional mengikuti, maka momentum sudah lewat.

Dua hal itu saja sudah menyebabkan banyak perusahaan mengalami kesulitan, kemunduran, bahkan kebangkrutan. Kita tentu tidak ingin ini terjadi di perusahaan/lembaga yang kita pimpin. Lalu bagaimana menyiasatinya?

 

Bersambung ke halaman selanjutnya

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends