Paradox Kepemimpinan Bisnis

Jika Anda adalah pemimpin bisnis, dan serius dalam menjalankan peran itu, pasti Anda pernah ada dalam posisi dilematis. Sebuah dilema yang harus segera diputuskan pilihannya. Keputusan itu akan menentukan nasib bisnis Anda.

Mana yang Anda akan pilih: Menciptakan masa depan atau menjawab tantangan hari ini? Going global atau jadi local champion? Menyenangkan pemegang saham atau memuaskan stakeholder yang lebih luas?

Intuisi tentu akan menuntun kita kembali pada prioritas yang kita miliki. Satu harus dikorbankan demi mencapai yang satunya. Namun tiga profesor bernama Wendy Smith dari University of Delaware, Marianne Lewis dari University of London dan Michael Tuhan dari Harvard Business School mengajukan argumentasi yang berbeda.

Mereka mengatakan bahwa memilih salah satu saja justru akan menghancurkan bisnis di masa datang. Bagaimana pun juga bisnis tidak bisa bertahan dalam jangka panjang tanpa memainkan keduanya dengan baik. Hal itu disebabkan karena proses bisnis semakin kompleks. Dunia semakin datar dan personal. Tuntutan pasar semakin tinggi.

Menurut ketiga profesor itu, saat ini kita harus jadi pemimpin yang memiliki Mindset ‘Both/And’ (dan) bukan ‘Either/Or’ (atau). Sulit? Jelas. Mungkin? Tentu saja.

Untungnya para profesor itu menunjukkan bagaimana caranya agar kita bisa menjadi pemimpin yang seperti itu. Caranya adalah dengan mensetting ulang cara berpikir kita. Berikut ini adalah tiga cara pikir yang perlu kita miliki.

Pertama, sadari bahwa kebenaran itu bisa lebih dari satu. Ketika Anda bisa menemukan bagaimana cara dua kebenaran yang saling berkonflik itu bisa berdamai, maka Anda akan temukan kebenaran yang lebih tinggi. Apa yang bisa dilakukan untuk menjawab tantangan hari ini disaat yang sama membangun masa depan yang kita diinginkan?

  Anda Ingin Menjadi Pemimpin? Kuasai 3 Prinsip Ini

Kedua, ubah mentalitas kelangkaan menjadi mentalitas berkelimpahan. Kita berpikir bahwa sumber daya terbatas. Sebenarnya tidak. Jika kita mau kolaborasi dan saling mengungkit sumber daya yang ada di sekitar kita. Contohnya Uber, perusahaan transportasi terbesar tidak punya aset mobil. AirBnB, perusahaan penginapan terbesar tidak punya aset bangunan. Facebook, perusahaan media terbesar tidak membuat konten.

Ketiga, pindah dari mencari stabilitas dan kepastian menuju menyambut dinamika dan perubahan. Ngotot mencari stabilitas dan kepastian ditengah lansekap industri yang terus bergejolak dan tidak pasti bukan hanya konyol tapi mematikan. Tidak ada lagi satu keputusan yang bisa berlaku untuk semua situasi di sepanjang masa. Strategi harus terus direvisi mengikuti tantangan yang berubah-ubah. Kita terus kejar-kejaran mencari Dynamic Equilibrium yang baru.

Nah, bagaimana menurut Anda? Apakah Anda pernah ada di posisi dilematis seperti diatas? Sejauh mana solusi cara pikir yang ditawarkan diatas bisa diaplikasikan?

Saya penasaran nih. Tulis pendapat Anda di kolom komen dibawah ya.

 

Indrawan Nugroho
Business Innovator
Join Klub Inovator Bisnis di bit.ly/klubinobis
Follow IG/Twitter: @indrakubik

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends