Menjalankan Home-Based Business, Efektifkah?

 

Kubik Leadership / Innovate For Impact

Pekan lalu, sebelum saya memberikan seminar, saya dijamu makan siang oleh direksi United Tractors (UT) di ruangannya. Ternyata, di ruangan yang didisain seperti ruang makan layaknya di rumah ini, para direksi biasa makan bersama, menunya selalu Indonesia. Suasananya seperti di rumah, baik interiornya maupun percakapannya. Di Kubik Leadership pun, setiap hari kami selalu menyediakan makan siang untuk disantap bersama semua karyawan, seperti layaknya makan di rumah, baik menunya maupun suasananya.

Suasana kerja seperti di rumah itu menambah nikmatnya bekerja, apalagi untuk budaya Asia dan Indonesia. Memang, tidak banyak perusahaan yang membawa suasana rumah ke perusahaan. Ada yang beranggapan, terlalu kekeluargaan bisa menghambat produktifitas dan suasana kompetitif karena ada budaya “ewuh pakewuh.” Karena penasaran, saya melakukan riset sederhana. Dan ternyata hasilnya mengejutkan, banyak perusahaan hebat ternyata membawa suasana rumah yang menyenangkan ke dalam pekerjaan.

Bahkan, sebagian pengamat meyakini, Sony, Google, Kompas Group dan perusahaan besar lainnya bisa bertahan dan terus bertumbuh karena hal ini. Bahkan, Akio Morita pendiri Sony pernah mengatakan “Semua orang diajarkan untuk bertindak seperti anggota keluarga yang siap melakukan apa pun yang di butuhkan” Bukan hanya itu, sang pendiri selalu menekankan, perusahaan dan karyawan itu satu.

Apapun yang kita pilih, pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Termasuk membawa suasana rumah ke dalam pekerjaan (perusahaan) pun demikian. Namun, apabila dilihat dari sisi antropologi dan sosiologi orang Indonesia, saya lebih cenderung memilih membawa suasana rumah ke dalam pekerjaan dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah profesional dalam bisnis.

Ada beberapa ciri yang saya temukan di perusahaan yang menggunakan falsafah ini. Pertama, kesalahan adalah hal yang biasa. Setiap karyawan diberi kebebasan berkreasi dan berinovasi tanpa pernah merasa takut salah. Sebagaimana di keluarga yang baik, setiap anggota keluarga juga diberi kebebasan yang bertanggungjawab untuk melakukan banyak kebaikan. Apabila ternyata di kemudian hari yang dilakukan ternyata salah atau keliru, ya diperbaiki tanpa harus dicaci maki.

  Dicari: Pemimpin Bisnis Yang Sebenarnya

Kedua, hubungan antar karyawan tanpa sekat birokrasi. Semua karyawan seperti layaknya keluarga, sang pimpinan seperti orang tua, karyawan seperti anak atau saudara. Antar karyawan seperti saudara kandung yang saling menasehati dan mendukung. Bila suatu saat ada konflik, diselesaikan secara kekeluargaan. Setelah itu, berinteraksi lagi sebagaimana layaknya sesama anggota keluarga.

Ketiga, tata ruang kantor menyenangkan dan mendorong interaksi. Para karyawan tidak berada di ruang yang tertutup seorang diri. Bahkan beberapa kantor sudah menggunakan konsep Smart Office, dimana semua karyawan tidak punya meja sendiri, mereka bebas menggunakan meja dimanapun. Suasana kerja dibuat senyaman mungkin, interaksi satu dengan yang lain sangat mudah terjadi.

Keempat, jaminan kesejahteraan. Sebagaimana seorang anak yang selalu mendapat dukungan fasilitas dan kebutuhan. Perusahaan dengan filosofi ini akan memikirkan kesejahteraan karyawannya pada tingkat yang sangat aman. Dan para pemimpinnya akan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya.

Apakah suasana kerja Anda sudah seperti suasana di rumah? Bagi-bagi dong pengalamannya.

 

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

 

Informasi training, coaching dan consulting: hubungi 021-29-400-100 atau 082-111-999-022

Subscribe Inspirasi Leadership Jamil Azzaini di Youtube Channel Kubik Leadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends