Menghadirkan Keingintahuan

Ibu saya bercerita tentang kepusingannya menghadapi saya saat berusia 2 tahun. Pada saat itu, hobi saya adalah menanyakan segala sesuatu. ‘Mama, itu apa? Yang ini apa? Itu apa namanya? Ini gimana jadi bisa begini?’ Meskipun pusing, ibu bilang ia bersyukur karena pengetahuannya bertambah. Keinginan untuk bisa memberikan jawaban pada anaknya membuat ia sendiri banyak belajar.

Bila Anda perhatikan, waktu di mana kita paling banyak belajar adalah saat kita balita. Kita takjub dengan dunia dan memiliki sejuta pertanyaan terhadapnya. Ada gairah dalam kondisi ketidaktahuan yang membuat kita mengeksplorasi tanpa lelah sampai merasakan kepuasan yang luar biasa karena menemukan jawaban yang kita inginkan. Sayangnya seiring dengan tumbuh dewasa, kita justru merasa lebih baik menutupi ketidaktahuan ketimbang mengakuinya. Kita pun mulai berhenti bertanya.

‘Saya sebetulnya ingin bertanya. Tapi bagaimana kalau orang anggap pertanyaan ini bodoh sekali. Bagaimana kalau pertanyaan ini sama sekali tidak penting, tidak ada nilainya. Saya hanya akan bikin malu diri saya sendiri. Ok lebih baik saya diam saja. Daripada saya salah.’

Bahayanya, kita mulai merasa cukup dengan apa yang diberitahukan pada kita dan menganggap tidak perlu untuk mencari tahu lebih dalam tentang berbagai hal. Padahal, saat kita merasa serba tahu, saat itulah kita sebenarnya paling tidak tahu.

Suatu waktu saya berkesempatan makan siang dengan Dr. Jag Soni, Ph.d, seorang coach yang kompeten dari Amerika dalam sebuah Coaching Summit. Ia berkata pada saya, ‘sebagai coach, bertanyalah hanya bila Anda memang ingin tahu sesuatu. Anda lebih baik DIAM daripada mengarang-ngarang pertanyaan.’ Penyampaiannya yang tegas ini bukan tanpa alasan. Mari kita membahasnya.

Dalam konteks coaching, mengapa menghadirkan keingintahuan sebagai langkah awal yang penting? Sebab tanpanya, pertanyaan yang kita ajukan hanya menjadi formalitas tanpa makna saja. Begitu pertanyaan kita lontarkan, yang ada adalah kelegaan, ‘yes! saya sudah mengerjakan bagian saya sebagai coach, saya sudah bertanya.’ Anda kemudian hanya setengah mendengarkan jawaban tim karena Anda tidak menganggap itu penting. Yang penting bagi Anda adalah Anda sudah bertanya.

  Menggali Potensi Karyawan Untuk Raih Prestasi Kerja Tertinggi

Jadi apa makna mengajukan pertanyaan? Untuk mendapatkan jawaban atas ketidaktahuan. Apa yang akan terjadi bila Anda merasa sudah tahu jawabannya? Inilah yang disebut sebagai menggunakan bertanya hanya sebagai bentuk lain dari memberitahu. Cara bertanya akhirnya menjadi retorikal. Sebagai contoh, ‘Langkah pertama tentunya buat rencana baru, kan?’  Lalu mungkin diteruskan dengan, “Setiap selesai menjalankan suatu program, kamu ingat kan untuk melakukan evaluasi?”

Kadang tanpa sadar, pertanyaan yang kita ajukan sebenarnya mengarahkan pada jawaban yang sudah kita asumsikan ketimbang membuka kesempatan bagi tim melakukan dialog internal dalam dirinya dan menemukan jawaban yang tidak kita duga sebelumnya. Kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh temuan berharga dari diri tim yang ternyata memberikan peluang hasil terbaik untuk diri mereka, yang jauh lebih bernilai daripada asumsi kita sebelumnya.

Inilah mengapa penting bagi Anda menghadirkan keingintahuan. Begitu Anda membuka sesi coaching pada tim, sebelum melontarkan pertanyaan apapun, kosongkan diri dari apapun yang sudah Anda ketahui sebelumnya. Perhatikan orang yang ada di depan Anda dan katakan pada diri Anda: ‘Saya tidak tahu apapun. Ini membuat saya sangat penasaran. Saya akan bertanya karena saya tidak tahu dan saya siap untuk jawaban apapun yang tidak saya duga sebelumnya.’

(Tulisan ini merupakan bagian dari bab 4 buku Corporate Heroes yang saya tulis bersama 4 rekan saya di Kubik Coaching).

 

Dewi Ashuro

Rising Star Partner

Career Development Trainer & Coach

www.facebook.com/yourcareerpartner

www.facebook.com/groups/bintangkarier

 

***

Kubik Training, Coaching dan Consulting menghadirkan workshop coaching pada tanggal 15-16 September 2016 di The Park Lane, Kuningan Jakarta bagi Anda yang ingin menjadi sekaligus melahirkan REVOLEADER.

Daftarkan diri Anda segera untuk mendapatkan petunjuk praktis dan strategis dalam membentuk para leader yang siap menghadapi berbagai macam tantangan.

  Mengapa Leader Membutuhkan Coach?

Informasi lebih lanjut hubungi (021) 29-400-100 atau 082-111-999-022.

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends