Mark-up Kebaikan

By Jamil Azzaini, Direktur Kubik Group

Kata mark-up biasanya dipakai dalam dunia bisnis yang berarti menaikan harga dari harga sesungguhnya. Nilai proyek yang bernilai Rp 10 milyar dijadikan Rp 13 milyar. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari banyak juga yang melakukan mark-up kebaikan. Berbuatnya 3 tetapi ngakunya 9. Ironisnya, pelakunya merasa hebat bukan merasa bersalah.

Ada juga yang bisnisnya beromzet ratusan juta mengaku milyaran rupiah. Tujuannya agar orang mengira dirinya hebat padahal boleh jadi bisnisnya sekarat. Dalam dunia training, ada juga trainer yang meminta temannya memberikan testimoni luar biasa tentang pelaksanaan trainingnya. Faktanya, trainingnya biasa-biasa saja. Ini semuanya adalah contoh mark-up kebaikan.

Pekerjaan yang bisa dilakukan sedikit tetapi merasa mencapai target dan kerja luar biasa. Ikut dompleng nama besar perusahaan tetapi karyanya tidak terlihat sedikit-pun. Merasa besar padahal karyanya kecil. Ini juga contoh mark up kebaikan.

Saran saya, jauihlah mark-up kebaikan. Sebab dalam jangka panjang itu sangat merugikan Anda. Orang-orang yang baik akan menjauh dari Anda. Integritas Andapun tercoreng di kalangan sahabat baik Anda. Andapun akan dikenal tukang bual atau kelompok NATO (Not Action Talk Only).

Mark-up kebaikan itu sangat tak baik dalam hidup kita. Para pelakunya akan lebih mengedepankan pencitraan daripada karya nyata. Ia akan merasa hebat padahal boleh jadi menjadi bahan ledekan dan cemoohan oleh kebanyakan orang.

Mark-up kebaikan itu seperti politisi yang tak pernah “blusukan” tiba-tiba membuat iklan yang memeluk rakyat, menggendong bayi, duduk bersama orang miskin, tersenyum dan membaur dengan rakyat dan sejenisnya. Saya yakin, orang–orang yang terdidik muak melihat tayangan iklan pencitraan seperti ini.

Agar kebiasaan melakukan mark-up kebaikan tidak terjadi kepada kita, maka jauhilah kebiasaan pamer, mengharap banyak pujian dan mengejar popularitas semu. Luruskan niat bahwa apa yang kita lakukan adalah dalam rangka mengumpulkan bekal untuk pulang ke kampung akherat.

  Bandul Kehidupan

Biarkan orang tahunya kita berbuat 3 padahal faktanya kita berbuat 9. Menurut saya, itu jauh lebih menentramkan hati dan menyelamatkan di kehidupan nanti. Tak perlu kita melakukan mark-up kebaikan karena berharap puja puji sebab itu justeru mengundang banyak penyakit hati. Setuju? Apabila Anda setuju silakan share tulisan ini kepada orang-orang yang Anda kenal.

 

Informasi training: hubungi Mona di 021-29-400-100 atau 082-111-999-022

Subscribe Video Motivasi Jamil Azzaini diĀ Youtube Channel Kubik Training

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends