Inovasi Basa Basi

 

Oleh Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership

Beberapa perusahaan atau institusi memaknai inovasi secara dangkal, cukup mereka mengadakan pekan inovasi, lomba inovatif, malam kreativitas dan sejenisnya. Dengan hanya melakukan ini, tentu Anda sudah bisa menebak hasilnya bukan? Tak ada perubahan budaya inovasi yang mendasar di perusahaan atau institusi itu. Kegiatan hanya menghabiskan anggaran tanpa hasil yang bisa dibanggakan, kegiatan semacam ini saya menyebutnya inovasi basa-basi.

Apabila inovasi ingin menjadi perilaku semua orang yang ada di perusahaan atau institusi, maka inovasi perlu menjadi bagian dari budaya organisasi, bukan hanya sekedar inovasi basa basi. Setidaknya ada tiga pilar besar yang harus dibangun untuk menumbuhkan budaya inovasi, yaitu: sistem, infrastruktur, dan orang. Diantara ketiga pilar itu yang memerlukan energi besar untuk membangunnya adalah orangnya.

Mengapa memerlukan energi besar? Karena tabiatnya, manusia menyukai hidup di zona yang nyaman. Budaya inovasi bisa membuat orang yang sangat nyaman hidupnya terusik atau terganggu. Namun di era sekarang, bila perusahaan tempat kita bekerja tidak inovatif maka perusahaan kita tertinggal dan akhirnya gulung tikar alias bangkrut.

Apabila Anda pengambil keputusan (pimpinan) segera buat keputusan untuk memasukkan inovasi ke dalam corporate culture Anda dan menjadikan inovasi menjadi kebiasaan sehari-hari. Kita pun wajib menjadi orang yang kreatif, untuk itu setidaknya kita perlu punya beberapa paradigma agar siap berada di lingkungan yang inovatif.

Pertama, biasakan Think Different. Selalu berpikir berbeda akan membuat otak kita terpancing mencari ide-ide baru dan segar serta tidak terkungkung dengan yang sudah ada. Tagline think different yang diadopsi Apple dan mendarah daging dibenak dan perilaku telah melahirkan produk yang simple dan friendly. Para pelanggannya pun terkenal sangat loyal dengan produk keluaran Apple ini.

  Membudayakan Inovasi (Tamat)

Kedua, selalu bertanya what if. Pertanyaan ini akan membuat hal yang sedang kita kerjakan akan memiliki perspektif dari banyak sudut pandang, tidak kaku dengan yang suda ada. Produk dan jasa yang ada bisa terus bertambah dan berkualitas karena kita selalu bertanya what if…

Ketiga, gagal adalah bukti kita bekerja. Banyak orang yang punya persespsi bahwa gagal adalah aib. Di dunia kreativitas, kegagalan adalah kewajiban. Orang yang gagal bukti bahwa dia bekerja. Orang yang tidak pernah gagal melakukan sesuatu karena memang dia tidak pernah melakukan sesuatu. Jadi, tak perlu takut gagal bahkan kita wajib gagal.

Inovasi sejati akan membuat kita dan perusahaan tempat kita bekerja terus berada di arena kompetisi. Sebaliknya, inovasi basa-basi membuat perusahaan kita terlempar dari arena kompetisi dan tentu membawa serta kita di dalamnya. Mau?

 

****

Kubik Leadership, perusahaan konsultan SDM terkemuka di Indonesia yang telah membantu lebih dari 150 perusahaan termasuk diantaranya perusahaan Fortune 100 Indonesia, akan menyelenggarakan sebuah Interactive Strategic Workshop selama satu hari untuk Anda, para Top Corporate Leaders, dengan tema:

“Building a Culture of Innovation through Gamification”
Hari Kamis, 3 November 2016 di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Jakarta

Fasilitator Workshop: Jamil Azzaini (Co-Founder & CEO Kubik Leadership), Indrawan Nugroho (CEO Cipta Innovation Consulting), Stuart Lloyd (Chief Hothead at Hotheads Innovation) dan Eko Nugroho (CEO & Lead Game Designer Kummara)

Ini adalah workshop yang langka dan satu-satunya di Indonesia. Informasi dan pendaftaran silakan hubungi 081310430833 (Dwi), 082111999022 (Kubik) atau kunjungi www.kubik.co.id/innovation

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends