Ilusi Multi Tasking

By Indrawan Nugroho, Founder Kubik Group

Tuntutan peran dan pekerjaan saat ini seringkali membuat kita harus melakukan banyak hal sekaligus, atau istilah kerennya adalah multi-tasking. Memang kehadiran teknologi memungkinkan kita melakukan itu. Bahkan aplikasi di komputer atau gadget kita (yang sedikit-sedikit keluar notifikasi itu) didesain agar kita melakukan multi-tasking. Namun tahukah Anda bahwa multi-tasking itu lebih banyak ruginya dibandingkan untungnya? Coba simak temuan ilmiah berikut ini.

Seorang ahli neurologi dari Massachusetts Institute of Technology, Professor Earl Miller menemukan bahwa otak sesungguhnya tidak bisa melakukan multitasking. Apa yang terlihat seperti multi-tasking itu sebenarnya adalah switching secara cepat diantara tugas-tugas yang dihadapinya. Dampaknya, memberikan stress yang jauh lebih besar pada otak.

Temuan di Vanderbilt University dengan menggunakan MRI mendukung gagasan itu. Ketika ada lebih dari satu tugas dikerjakan oleh seseorang, maka yang terjadi adalah penyumbatan kapasitas proses di otak, ibarat aliran energi melewati leher botol yang menyempit. Wajar kalau orang yang suka multi-tasking otaknya gampang nge-hang!

Gerald Weinberg, pakar psikologi pengembangan software komputer, melalui bukunya Quality Software Management: Systems Thinking, menemukan bahwa ketika kita menambahkan satu proyek di atas proyek lain, maka akan muncul waste atau kemubaziran, setidaknya mubazir waktu. Weinberg menghitung, kalau kita melakukan proyek kedua pada saat proyek pertama dikerjakan, kita kehilangan waktu 20%. Ketika proyek ketiga diambil, 50% waktu kita terbuang. Artinya ketika mencoba mengerjakan lebih banyak pekerjaan justru hasil yang didapat lebih sedikit!

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends