3 Cara Mudah Mengendalikan Marah

Kubik Leadership / Innovate For Impact

Untuk lebih memaknai ibadah puasa tahun ini, saya berguru dengan banyak orang berilmu dan membaca banyak literatur. Bukti puasa kita berhasil adalah apabila setelah bulan puasa berakhir kita semakin bertaqwa kepada Allah swt. Dan salah satu indikator taqwa adalah kemampuan seseorang menahan amarah.

Ternyata, marah itu banyak ragamnya. Ada marah yang justeru diwajibkan, disunahkan, mubah dan marah yang dimakruhkan. Dan tentu ada marah yang diharamkan atau dilarang. Nah, marah yang diharamkan adalah marah yang disertai caci maki, kata-kata kotor, merusak berbagai fasilitas hanya karena pribadinya tersinggung, direndahkan atau sesuatu terjadi tidak sesuai harapan. Jenis marah inilah yang diharamkan dan wajib kita menghindarinya. Kita wajib mengelolanya atau menahannya agar tidak semakin marah.

Marah ternyata sumber dari berbagai keburukan dan kerusakan. Secara sosial persahabatan membuat seseorang hatinya semakin jauh. Secara kesehatan, marah adalah sumber berbagai penyakit seperti pencernaan, jantung, depresi dan lain sebagainya. Pantaslah bila Rasulullah pernah bersabda “jangan marah, maka kamu masuk surga.”

Bagaimana caranya agar kita mampu menahan marah. Ada beberapa tips yang perlu Anda coba. Pertama, bacalah taawudz (A`ūdzu billāhi minas-syaitānir-rajīmi) saat ada sesuatu yang memancing Anda marah. Kita minta perlindungan dari godaan setan karena memang marah sifat dan kebiasaanya setan. Ulangi beberapa kali bacaan tersebut bila amarah masih terus menggelora di dalam dada.

Kedua, saat marah diamlah. Seseorang yang dilanda amarah kata-katanya akan semakin tidak terkontrol dan cenderung kasar. Maka saat punya kesempatan untuk marah segera diamlah. Apabila Anda tidak tahan untuk diam, tuliskanlah amarah Anda di dalam kertas yang ada, setelah itu sobek-sobeklah kertas tersebut.

  Hiduplah di Dunia Nyata

Ketiga, ubah posisi tubuh Anda. Coba Anda perhatikan, orang marah biasanya punya posisi tubuh tertentu, segera ubah posisi tubuh Anda. Bisa dimulai dari yang semula berdiri, duduklah, bila memungkinkan berbaring maka berbaringlah. Intinya Anda perlu merendahkan tubuh Anda dari posisi sebelumnya.

Keempat, berwudhu. Konon setan terbuat dari api dan api bisa dikalahkan dengan air, maka saat Anda marah segeralah berwudhu. Bila memungkinkan mandi dan setelah mandi langsung berwudhu. Saya sudah beberapa kali mencoba dan hasilnya memang luar biasa.

Sadarilah, bila usai puasa kita masih sering marah atau mudah murah itu pertanda ibadah puasa kita gagal. Boleh jadi kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga namun tidak mendapat pahala puasa serta tidak mendapat kedudukan mulia disisi-Nya, yaitu taqwa. Rugi khan?

 

CEO Kubik Leadership

 

Informasi training, coaching dan consulting: hubungi 021-29-400-100 atau 082-111-999-022

Subscribe Inspirasi Leadership Jamil Azzaini di Youtube Channel Kubik Leadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends